Cek Grounding Sekarang! Ini 5 Masalah yang Sering Terjadi

Grounding adalah salah satu elemen penting dalam sistem kelistrikan yang berfungsi untuk mengalirkan arus listrik berlebih ke tanah demi mencegah kerusakan peralatan dan bahaya kejutan listrik. Sayangnya, banyak orang baru menyadari pentingnya melakukan cek grounding setelah terjadi masalah, seperti perangkat elektronik rusak atau bahkan kebakaran listrik. Artikel ini akan membahas lima masalah yang sering terjadi pada sistem grounding beserta penyebab dan cara mengatasinya.
1. Tahanan Grounding Terlalu Tinggi
Mengapa Tahanan Grounding Bisa Tinggi?
Tahanan grounding yang melebihi standar dapat membuat sistem proteksi tidak bekerja optimal. Standar umum dari PLN untuk tahanan grounding adalah maksimal 5 ohm untuk instalasi rumah, sementara untuk industri bisa lebih rendah.
Penyebabnya antara lain:
-
Tanah di sekitar elektroda terlalu kering.
-
Elektroda grounding berkarat atau rusak.
-
Ukuran elektroda tidak sesuai standar.
Solusi:
Lakukan cek grounding secara rutin menggunakan earth tester. Jika nilai resistansinya tinggi, Anda bisa menambahkan grounding rod atau memperbaiki kualitas tanah dengan grounding enhancement material.
Baca juga: PLASMA GEM | Grounding Enhencement Material, Harga Lokal Kualitas Impor
2. Kabel Grounding Terputus atau Longgar
Risiko Kabel Grounding Terputus
Kabel grounding yang terputus atau longgar membuat aliran listrik tidak mengalir sempurna ke tanah. Akibatnya, saat terjadi lonjakan arus, beban tersebut malah mengalir ke perangkat elektronik atau ke tubuh manusia.
Penyebab umum:
-
Korosi pada sambungan kabel.
-
Gangguan hewan pengerat.
-
Pemasangan awal yang tidak kokoh.
Solusi:
Lakukan inspeksi visual saat cek grounding untuk memastikan sambungan kabel tidak aus atau terlepas. Gunakan clamp berkualitas agar sambungan lebih kokoh.
3. Elektroda Grounding Berkarat
Efek Karat pada Elektroda
Karat dapat menghambat konduktivitas logam elektroda, sehingga aliran arus ke tanah menjadi tidak optimal.
Penyebab karat:
-
Kondisi tanah yang asam.
-
Tidak adanya pelapisan pelindung pada elektroda.
-
Material elektroda yang tidak sesuai (misalnya besi biasa tanpa lapisan tembaga).
Solusi:
Saat melakukan cek grounding, perhatikan kondisi fisik elektroda. Jika karat sudah parah, ganti dengan elektroda copper bonded atau stainless steel yang lebih tahan korosi.
4. Kualitas Tanah Tidak Mendukung
Tanah yang Buruk untuk Grounding
Tidak semua jenis tanah memiliki konduktivitas baik. Tanah berbatu atau terlalu kering memiliki hambatan listrik tinggi, sehingga sistem grounding sulit mencapai standar resistansi yang aman.
Penyebab konduktivitas rendah:
-
Struktur tanah berpasir atau berbatu.
-
Kekeringan berkepanjangan.
-
Pemasangan di lokasi yang salah.
Solusi:
Ketika cek grounding, ukur nilai resistansi di berbagai titik untuk menemukan lokasi terbaik. Tambahkan grounding enhancement material atau lakukan pelembaban tanah di sekitar elektroda.
5. Grounding Tidak Terhubung ke Semua Peralatan
Pentingnya Distribusi Grounding yang Merata
Beberapa instalasi listrik hanya menghubungkan grounding ke panel utama, tetapi tidak mendistribusikannya ke semua peralatan elektronik. Akibatnya, perangkat yang tidak terhubung rentan rusak saat terjadi lonjakan arus.
Penyebab:
-
Perencanaan instalasi yang tidak lengkap.
-
Penghematan biaya pemasangan.
-
Kurangnya pengetahuan teknisi.
Solusi:
Pastikan saat cek grounding, semua jalur instalasi diperiksa. Gunakan kabel grounding berukuran sesuai standar ke setiap beban listrik yang membutuhkan proteksi.
Tips Melakukan Cek Grounding yang Efektif
Melakukan cek grounding tidak cukup hanya sekali. Sebaiknya pengecekan dilakukan secara berkala, minimal setiap 6 bulan sekali, atau lebih sering jika area rawan petir dan kelembapan tanah berubah drastis. Gunakan alat ukur khusus seperti earth tester untuk mendapatkan hasil akurat.
Langkah-langkah sederhana:
-
Matikan aliran listrik sebelum pengecekan.
-
Periksa kondisi fisik kabel dan elektroda.
-
Ukur tahanan grounding menggunakan alat ukur.
-
Bandingkan dengan standar yang berlaku.
-
Lakukan perbaikan jika nilai resistansi di atas batas aman.
Q&A Seputar Cek Grounding
Q: Seberapa sering saya harus melakukan cek grounding?
A: Idealnya setiap 6 bulan sekali atau setelah terjadi badai petir besar.
Q: Apa tanda grounding bermasalah?
A: Nilai tahanan melebihi 5 ohm, perangkat elektronik sering rusak, atau ada sengatan listrik pada peralatan logam.
Q: Apakah cek grounding bisa dilakukan sendiri?
A: Pengecekan fisik bisa dilakukan sendiri, tapi pengukuran nilai tahanan sebaiknya dilakukan oleh teknisi dengan alat khusus.
Q: Apa risiko jika tidak pernah cek grounding?
A: Risiko kerusakan peralatan elektronik, kebakaran listrik, dan bahaya tersengat arus meningkat.
Q: Bagaimana cara menurunkan resistansi grounding yang tinggi?
A: Menambah jumlah elektroda, memperbaiki kualitas tanah, atau menggunakan bahan peningkat konduktivitas seperti Plasma Gem grounding enhancement material.

Ingin tahu info tentang Cek grounding sekarang! Ini 5 masalah yang sering terjadi maupun info penyalur petir lainnya?
Simak terus artikel terbaru dari www.pasangantipetir.id
Untuk info lebih lanjut mengenai produk maupun jasa pemasangan anti petir, konsultasikan kepada Tim Ahli Kami di 0858-9291-7794
